Mahasiswa Mengabdi kepada Masyarakat “5W 1H”

kalo ga salah 2 hari lalu sempet iseng2 buka milis dan nemu satu tulisan yg sangat fundamental mengenai pengmas #halah
eh, kepikiran deh buat masukin tulisannya di blog tercinta ini 8-)
langsung aja saya kontak ke empunya ini tulisan, buat minta izin di copas. ternyata langsung di-approve saat itu juga !! :-D

cekidot :

“5W1H Mahasiswa Mengabdi kepada Masyarakat”

Pengabdian kepada masyarakat di kalangan mahasiswa ITB menjadi isu yang menyedot perhatian banyak unsur selama setahun belakangan. Perhatian yang besar ini menggerakkan mahasiswa ITB untuk berpikir kontribusi yang konkret untuk masyarakat. Perhatian yang besar ini seringkali diarahkan menjadi suatu gerakan pengabdian kepada masyarakat. Gerakan ini muncul dipengaruhi juga oleh sentimen terhadap gerakan aksi massa yang dipandang sebagian besar mahasiswa tidak membawa pengaruh positif yang lebih besar ketimbang pengaruh negatif yang ditimbulkan. Gerakan aksi massa dinilai tidak memberikan pengaruh yang konkret kepada masyarakat. Malah dalam sebagian besar kasus aksi turun ke jalan, masyarakat merasa dirugikan akibat macet yang disebabkan oleh pemblokiran jalan oleh massa yang melakukan aksi. Namun, itu masalah lain yang akan kita bahas di tulisan yang lain. Sekarang ini kita akan membahas cukup banyak perhatian yang harus kita telaah lebih dalam jika ingin menyejajarkan gerakan pengabdian kepada masyarakat dengan gerakan aksi massa sebagai dua gerakan yang saling mendukung satu sama lain.

Saya akan mengutak-atik pembahasan mengenai gerakan pengabdian kepada masyarakat (PM) dengan metode sederhana “5W1H”. Saya gunakan pendekatan yang paling sederhana ini dengan harapan pada setiap pertanyaan yang akan muncul, setiap orang akan bisa mengemukakan juga ide masing-masing, kemudian menjadi pembahasan bersama yang menarik.


What: Apa itu Pengabdian kepada Masyarakat?
Pengabdian kepada masyarakat tidak pernah didefinisikan di literatur manapun. Semua orang paham bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah serangkaian kegiatan atau program yang memberikan pengaruh positif kepada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Mengambil istilah kedokteran, yaitu “to improve the quality of life”. Definisi mengenai pengabdian kepada masyarakat masih relevan dengan devinisi tentang “community development” yang memiliki referensi yang melimpah dan dengan bermacam-macam definisi yang terus berkembang. Referensi-referensi yang saya baca secara tersirat menyimpulkan kepada pemahaman yang sama dengan pemahaman pengabdian kepada masyarakata yang telah saya cantumkan di atas. Saya sendiri akan mengunakan definisi pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan “community development” sebagai berikut:

“Community development occurs when people strengthen the bonds within their neighborhoods, build social networks, and form their own organizations to provide a long-term capacity for problem solving” (H.J. Rubin & I.S. Rubin, 1998, p.3)

Who: Siapa yang Terlibat di Pengabdian kepada Masyarakat?
Pihak-pihak yang terlibat dalam gerakan pengabdian kepada masyarakat memiliki horison keragaman yang luas. Pada kesempatan kali ini hanya akan dibatasi kepada gerakan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa. Pihak-pihak yang terlibat tentu mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa pun memiliki berbagai macam wadah untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, diantara wadah-wadah tersebut: badan eksekutif mahasiswa, himpunan mahasiswa jurusan, unit kegiatan mahasiswa, dan organisasi pemuda di luar tanggungjawab kampus. Masyarakat yang terlibat dapat dibagi ke dalam tokoh masyarakat, kepala lingkungan setempat, ketua RT, ketua RW dan anggota masyarakat dalam lingkup kegiatan atau program pengabdian kepada masyarakat yang digulirkan.

When and Where: Kapan dan di Mana Saja Pengabdian kepada Masyarakat?
Sederhana: kapanpun dan di manapun. Serius. Mahasiswa hari ini ketika diwacanakan mengenai pengabdian kepada masyarakat, langsung mengasosiasikan kegiatan yang dilakukan berupa implementasi teknologi dan transfer keilmuan atau profesi  yang dipelajari di bangku kuliah kepada masyarakat. Ini benar, namun tidak selalu benar. Pengabdian kepada masyarakat itu kapanpun dan di manapun. Pengabdian kepada masyarakat harus dimulai di radius terdekat tempat kita melakukan aktivitas sehari-hari. Paling sederhana adalah tetangga di lingkungan tempat tinggal. Dimulai dari lingkungan tempat tinggal kita, kemudian melebar ke satu desa atau kelurahan, ke desa atau kelurahan tetangga, ke satu kecamatan, ke kecamatan sebelah, ke satu kota atau kapubaten, ke kota atau kabupaten tetangga, kemudian nanti akan makin luas lagi.

Why: Mengapa Melakukan Pengabdian kepada Masyarakat?
Mahasiswa adalah entitas di masyarakat yang menyandang predikat sebagai insan dengan tingkat pendidikan paling tinggi. Telah lama muncul anggapan di masyarakat bahwa mahasiswa adalah insan yang paling cerdas di lingkungan tempat tinggal mereka, jika ada. Mahasiswa sering disanjung-sanjung dan mendapat posisi yang tinggi di masyarakat. Namun itu adalah kondisi masa lalu. Masa ketika mahasiswa memang masih dekat dengan masyaraka. Saking dekat dengan masyarakat sampai-sampai masyarakat menganggap mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat atau keluarga walaupun bukan berasala dari lingkungan yang sama. Sekarang penghormatan masyarakat kepada mahasiswa semakin berkurang akibat degradasi moral yang terjadi di mahasiswa. Mahasiswa sekarang hanya disibukkan oleh belajar dan organisasi saja. Ada juga yang menambahkan dengan aktivitas hiburan. Tidak lagi banyak berinteraksi dengan masyarakat; tidak lagi dekat dengan masyarakat. Jawaban pertama untuk pertanyaan “Mengapa melakukan pengabdian kepada masyarakat” adalah untuk mendekatkan lagi mahasiswa kepada masyarakat; untuk menumbuhkan kembali penghormatan mahasiswa kepada masyarakat; untuk meraih kembali kepercayaan mahasiswa kepada masyarakat.

Gerakan aksi massa oleh mahasiswa hari ini banyak juga mendapat tanggapan negatif dari masyarakat, bahkan dari mahasiswa lain yang tidak ikut melakukan aksi. Keluhan mengenai aksi yang membuat macet, membuat lalu lintas kacau, membuat kerusuhan, dan lain-lain hanya merupakan keluhan yang harus dilihat sebagai gejala. Di balik segala keluhan tersebut ada aspek lebih mendalam yang harus dilihat, yaitu ada kalangan yang tidak percaya kepada mahasiswa. Ketidakpercayaan timbul karena tidak ada komunikasi positif antara mahasiswa dengan masyarakat. Tidak banyak mahasiswa yang “minta izin” melakukan aksi kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal dengan sedikit-sedikit dan pelan-pelan juga mencerdaskan kenapa mahasiswa harus melakukan gerakan aksi massa. Komunikasi positif ini tidak terbangun karena mahasiswa tidak punya kapasitas sosial yang baik untuk dapat menjelaskan kepada masyarakat alasna di balik berbagai gerakan aksi. Mahasiswa dengan kalimat-kalimat sederhana dapat menjelaskan kepada masyarakat: “Pak, kalau kami aksi hari ini, harga minyak bisa gak jadi naik lho.”; “Bu, saya mau aksi biar listrik dan air gak dinaikkan jadi lebih mahal.”; dan juga bahasa-bahasa lain yang lebih persuasif untuk masyarakat. Jawaban kedua untuk pertanyaan yang sama seperti di atas adalah “untuk meningkatkan kapasitas sosial mahasiswa agar dapat berperan lebih aktif dan positif kepada masyarakat”.

How: Bagaimana Melakukan Pengabdian kepada Masyarakat?
Banyak cara. Banyak program yang bisa dilakukan. Banyak kegiatan yang bisa dirancang. Banyak impian yang bisa diejawantahkan. Semua dikembalikan kepada potensi masing-masing mahasiswa atau kelompok mahasiswa. Pada kesempatan kali ini di bagian ini saya akan memaparkan panduan yang saya rancang untuk bisa digunakan di seluruh kampus di Indonesia. Pemaparan ini akan menggunakan pendekatan struktur organisasi kemahasiswaan yang secara umum dianut oleh kampus-kampus di seluruh Indonesia. Struktur yang dimaksud adalah Senat Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan, dan Unit Kegiatan Mahasiswa.

Kegiatan-kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa banyak dikelola dan diinisiasi oleh Himpunan-Himpunan Mahasiswa Jurusan dan/atau Unit-Unit Kegiatan Mahasiswa. Hal ini karena HMJ dan UKM memiliki basis massa yang jelas dan lebih terikat. Kegiatan yang dikelola oleh HMJ dan UKM akan memiliki keberagaman horison aktivitas yang lebar. Hal ini membuka pintu kerjasama antar-HMJ dan/atau antar-UKM untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama-sama. Peran untuk membuka pintu kerjasama ini harus diambil alih oleh Badan Eksekutif Mahasiswa yang merupakan struktur kemahasiswaan yang lebih tinggi dari HMJ dan UKM. Tugas BEM yang pertama menjadi fasilitator HMJ dan UKM untuk saling membuka pintu-pintu kerjasama. Tugas BEM yang kedua adalah menjadi motivator untuk HMJ dan UKM yang memiliki keinginan untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. BEM juga harus bertugas sebagai inspirator agar HMJ dan UKM yang belum melakukan pengabdian kepada masyarakat mulai berpikir untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sendiri atau bekerjasama. Tugas BEM yang paling berat adalah sebagai pemimpin gerakan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh HMJ dan UKM.

Pada bagian “How” ini saya ingin membahas secara khusus tugas atau peran BEM sebagai pemimpin gerakan pengabdian kepada masyarakat. BEM sebagai pemimpin gerakan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa harus mampu memetakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh HMJ dan UKM. BEM yang mampu menjalanakan peran seperti ini tidak perlu memiliki program atau kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh BEM sendiri, namun cukup dengan mendorong HMJ dan UKM untuk terus mengembangkan dan memperbaiki kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang sedang dilakukan. BEM tidak perlu memiliki program kerja. BEM berperan sebagai pemimpin gerakan pengabdian kepada masyarakat. Inilah cara-cara yang dapat dilakukan oleh BEM untuk menumbuhkembangkan gerakan pengabdian kepada masyarakta di kampus.

Paling penting dari itu semua adalah pada setiap mahasiswa harus dipahamkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dilakukan untuk mendekatkan kembali mahasiswa kepada masyarakat. Penekanan dari segala macam gerakan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa adalah dilakukan dengan menambah dan terus mengasah kapasitas sosial masing-masing mahasiswa.
_.:|      .      |:._
Hanya mengejar kepentingan diri sendiri, lalu cuek akan derita sekitarnya. O o astaga apa yang sedang terjadi. O o astaga hendak kemana semua ini. Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli. Mudah putus asa dan kehilangan arah.
About these ads
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: